Secangkir Cinta, Rindu dan Harapan

21 Nov 2013

Judul : A Cup of Tarapuccino
Penulis : Riawani Elyta & Rika Y. Sari
Penerbi : Indiva Publishing
Tebal : 304 halaman
Terbit Pertama : April, 2013
Ukuran : 13×19 cm
ISBN : 978-602-8277-88-4
Harga : Rp 39.000

***

Mengapa harus ada sub sistem lain di dalam jasad bernama rasa? Yang datangnya tak pernah diundang, pulang pun tak dijemput, seperti jelangkung saja. Tak dapat dicegah untuk muncul, tak dapat diusir dengan gampang. (halaman 116)

Cinta, sebuah rasa yang sangat rumit untuk di urai dengan kaca mata logika. Pun tak hanya itu, cinta juga terkadang datang pada saat dan tempat yang tak tepat pada akhirnya membuat si empunya berada dalam kebimbangan. Akan meneruskan langkah ataukah tetap berada ditempatnya.

Hazel, lelaki berambut ikal yang memiliki rahang yang ditumbuhi cambang cukup lebat yang berbaris hingga dagu itu mampu menggetarkan hati Tara dan diam-diam memikat hatinya. Lelaki yang rutin datang setiap pagi menyambangi Bread Time ini selalu menempati posisi tempat duduk yang sama serta melakukan aktivitas yang hampir sama setiap harinya dengan ditemani secangkir cinnamon cappucino. Padahal, lelaki itu belum pernah sekalipun berbincang dengannya. Bahkan sekadar menyapa atau memandang tepat pada kedua manik matanya pun belum pernah. (halaman 33)

Perhatian Tara pada lelaki itu tak urung membuat Raffi, sepupu yang dijodohkan untuknya sekaligus partnernya dalam mengelola Bread Time cemburu. Kecemburuan Raffi makin membuncah manakala ia mengetahui Hazel dilibatkan Tara untuk menjadi partner Tara dalam membuat majalah bulanan Bread Time, majalah yang mereka manfaatkan sebagai sarana pemasaran usaha bakery yang mereka kelola.

Lalu, kemanakah Tara akan menenggelamkan rasa yang ada dalam hatinya. Akankah rasa itu berujung pada Raffi yang telah dijodohkan untuknya ataukah pada Hazel, lelaki yang telah memikat hatinya dengan segala kemisteriusannya.

***

A Cup of Tarapuccino tak hanya menghadirkan konflik cinta segitiga antara Raffi, Tara dan Hazel. Novel ini juga dibalur cerita kotornya persaingan bisnis dan praktek-praktek kotor yang dilakukan pebisnis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Sama halnya dengan politik, bisnis juga memiliki sisi abu-abu dan hitam layaknya jelaga yang mengotori pantat panci yang putih mengkilap yang dibingkai dengan sebutan apik yakni “politik dagang”. Praktik ini dikisahkan oleh penulis lewat perusahaan Calvin & Co.

Pada awalnya, Calvin & Co merupakan pemasok utama bahan-bahan pembuat roti untuk Bread Time. Konflik mulai terjadi saat Bread Time memutuskan kontrak kerjasama dengan Calvin & Co secara sepihak dengan alasan bahan baku pembuat bakery yang dipasok perusahaan tersebut diduga mengandung bahan yang kehalalannya dinyatakan berada pada status syubhat. Tidak terima dengan keputusan Raffi dan Tara, Calvin & Co berusaha menjatuhkan nama baik Bread Time dengan segala cara. Konflik semakin seru manakala masalah tersebut juga melibatkan Hazel.

Ada beberapa kelemahan penulis yang menunjukkan kurangnya pemahaman penulis secara mendalam seputar seluk beluk bisnis, salah satunya ialah strategi diversifikasi produk yang kurang tepat. Dalam novel ini diceritakan jika salah satu kunci sukses usaha Bread Time bakery ialah pemilihan diversifikasi produk dari awalnya murni bakery menjadi bakery yang juga menyediakan aneka hidangan komplit bercitarasa lokal (halaman 26). Sayangnya, pemilihan produk yang dikembangkan Bread Time bakery tersebut akan membuat brand Bread Time yang diceritakan dalam novel ini sudah tertanam kuat menjadi rancu. Akan lebih pas jika penambahan produk Bread Time dengan menyajikan bakery yang memiliki taste (cita rasa) lokal, seperti strategi diversifikasi yang dilakukan oleh Klenger Burger dengan memberikan cita rasa lokal pada burgernya.

***

Membaca “A Cup of Tarapuccino” ini, pembaca seolah-olah diajak penulis menelusuri hiruk pikuk kota Batam dengan beragam karakter orang yang tinggal di dalamnya. Detil dan deskriptif yang menjadi ciri paling menonjol dari novel-novel Riawani Elyta terasa kental dan nyata dalam novel ini.

Sayangnya, keindahan detil dan deskripsi latar yang di paparkan penulis tak diimbangi dengan konsistensi didalamnya. Salah satu contoh inkonsisten penulis dalam menuliskan latar terasa pada gambaran bangunan Bread Time bakery. Di halaman 215 dituliskan ruko megah salah satu bakery terkemuka (yang merujuk pada Bread Time bakery), sementara pada halaman 23, Bread Time bakery dideskripsikan sebuah ruko di salah satu sudut business centre kelas menengah ke bawah yang berada persis menghadap kompleks pasar tradisional dengan cat dinding warna peach yang tampak sedikit mencolok di antara deretan ruko lain yang memiliki warna dan tipikal bangunan yang seragam, serta sebagian cat yang mulai kusam dan mengelupas, cukup memberi gambaran bahwa ruko tersebut tidaklah bisa dikategorikan megah.

Penjabaran yang disampaikan penulis tentang Bread Time pada halaman 23 pun membuat saya harus membacanya berulang kali untuk memahaminya. Kalimat yang saya maksud ialah Dari arah luar kaca gelap pintunya yang didominasi oleh poster ayam goreng crispy… Ayam goreng crispy? Timbul pertanyaan dalam benak saya, ini restoran ayam cepat saji atau bakery?

Terlepas dari beberapa kelemahan dalam novel ini, over all, A Cup of Tarapuccino mengajarkan pada kita bagaimana penerapan konsep bisnis yang Islami lewat usaha bakery duo bersaudara tersebut. Bisnis yang tak hanya berpatokan pada keuntungan semata, juga kemaslahatan umat dan tentunya berlandaskan pada hukum syar’i dan adab berdagang dalam Islam.

Novel ini juga sangat pas diterbitkan oleh penerbit Indiva Media Kreasindo. Penerbit ini tak hanya menerbitkan buku-buku inspiratif, juga selalu menerbitkan buku yang kaya akan nilai-nilai Islam. Novel ini ibarat di racik oleh chef yang tepat dalam dapur yang sesuai.

d6a10bec29999e37bd01c8eaa0e76988_tarapucino


TAGS A Cup Of Tarapuccino Indiva


-

Author

Follow Me