Optimalisasi Zakat untuk Kesehatan Si Miskin

28 Nov 2013

Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula ) kepada Fakir Miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Ar Ruum : 38)

***

Ungkapan Orang miskin dilarang sakit, benar-benar menjadi kenyataan di negeri ini. Kaum dhuafa di negeri ini tak hanya mendapatkan pelayanan kesehatan alakadarnya, bahkan di beberapa rumah sakit mereka pun tertolak dengan berbagai alasan.

Berbagai program pemerintah guna memfasilitasi para dhuafa agar mendapatkan pelayanan kesehatan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) pun rawan penyimpangan dan menyisakan pekerjaan rumah yang mesti segera diselesaikan, mulai dari ketidak tepatan sasaran yang disebabkan belum akuratnya data peserta, kurang optimalnya sosialisasi yang dilakukan, adanya pungutan untuk mendapatkan kartu, masih adanya pasien Jamkesmas yang tetap mengeluarkan biaya, serta masih buruknya kualitas pelayanan pasien Jamkesmas.

Data yang disampaikan Herlini Amran, anggota Panja Jamkesmas Komisi IX DPR RI, terdapat sekitar 20 juta dhuafa yang tidak bisa berobat karena hak kepesertaan Jamkesmas mereka terabaikan atau tidak terdata dalam rentang tahun 2012 sampai 2013. Padahal hak untuk hidup sehat dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal merupakan hak asasi manusia yang harus dipenuhi.

Menilik program kesehatan masyarakat di beberapa negara maju seperti Inggris dan Jerman, mereka telah mencanangkan universal health coverage (cakupan menyeluruh) puluhan tahun lalu. Di Inggris, sistem ini dikenal dengan National Health Service (NHS) dan telah dimulai sejak tahun 1946, atau satu tahun setelah Indonesia merdeka. Sistem ini memungkinkan seluruh warga Inggris memperoleh pengobatan dan perawatan kesehatan secara cuma-cuma, yang kesemuanya dibayarkan oleh negara. Dengan sistem tersebut, Inggris berhasil menempatkan penduduknya sebagai salah satu negara dengan penduduk paling sehat di dunia, dengan usia harapan hidup mencapai 79 tahun.

Lain halnya dengan Jerman. Jika di Inggris NHS baru di mulai pada tahun 1946, Jerman justru telah lebih dulu memulainya yakni pada tahun 1889. Saat Otto von Bismark menjabat sebagai kanselir kekaisaran Jerman, ia mengusulkan untuk membuat sistem yang memungkinkan rakyat Jerman memperoleh akses seluas-luasnya pada pelayanan kesehatan, selain pemberian asuransi kecelakaan dan pensiun pada orangtua. Program asuransi sosial tersebut merupakan yang pertama di dunia dan menjadi model bagi negara-negara lain dalam mensejahterakan rakyatnya. Melalui pendekatan ini, Jerman di kenal sebagai negara dengan sistem asuransi kesehatan sosial tertua di dunia.

credit

credit

Optimalisasi Zakat Pada Masa Rasulullah SAW dan Sahabat

Pensyariatan zakat telah terjadi sejak Nabi berada di Mekkah. Perintah ini bersamaan dengan perintah mendirikan shalat, walaupun dalam sejarahnya zakat baru diwajibkan di Madinah. Keseluruhan ayat-ayat Makiyyah bersifat informatif, baru bersifat umum, belum ada ketentuan detail hukum dan jenis harta yang wajib di zakati serta batasan nisab dan kadar zakat yang harus dikeluarkan. Pada periode Makiyyah zakat juga belum ditetapkan sebagai kewajiban seorang muslim, baik zakat harta maupun zakat fitrah. Zakat hanya di pandang sebagai perilaku orang-orang yang terpuji, ciri orang yang beriman, bertakwa, dan shaleh.

Sementara pada periode Madinah, zakat telah menjadi sebuah instrumen fiskal utama yang cukup menentukan. Zakat merupakan aset pendapatan negara yang sangat berarti bagi kelangsungan pemerintah. Dari zakat pula, terkumpul dana besar yang dapat diberdayakan untuk kepentingan negara, serta sebagai sumber dana dalam proses pembangunan negara berdasarkan syariat Islam pada masa tersebut. Dalam konteks itu, zakat telah menjadi tulang punggung dalam perekonomian negara dan telah menjadi instrumen fiskal utama pada masa tersebut. Untuk mempermudah mekanisme pemungutan dan penyaluran pajak, Nabi mengangkat petugas khusus yang di kenal dengan sebutan Amil.

Fakta sejarah telah membuktikan di jaman Rasullulah SAW, para sahabat, Ummayah, dan Abbasiah, ekonomi umat Islam tumbuh berkat tergalinya potensi zakat umat secara optimal. Masih segar dalam ingatan kita cerita khalifah Umar bin Khattab yang memanggul sendiri gandum yang diambil dari Baitul Maal untuk rakyatnya yang kelaparan. Bahkan di jaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, tidak ditemukan lagi masyarakat miskin dalam tempo 30 bulan masa kepemimpinannya. Semua muzakki mengeluarkan zakat dan distribusi zakat tidak hanya sebatas konsumtif semata, zakat juga digunakan untuk hal-hal yang bersifat produktif. Kenyataan itu harus kita wujudkan saat ini agar kemiskinan yang menjadi musuh negara kita dapat diatasi.

Potensi Zakat dan Tantangan Amil Zakat di Indonesia

Sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, sejatinya potensi zakat di Indonesia bisa mencapai Rp 300 Triliun per tahunnya. Namun sayangnya, zakat yang bisa di tarik dari masyarakat sampai sejauh ini rata-rata baru sekitar Rp 1,8 Triliun saja. Kesenjangan tersebut terkait beberapa hal diantaranya, pertama, masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam menunaikan kewajiban zakat dan minimnya pengetahuan masyarakat seputar zakat. Banyak masyarakat yang baru sekadar tahu bahwa zakat itu hanya berupa zakat fitrah.

Kedua, rendahnya tingkat kepercayaan para muzaki terhadap pengelola zakat, baik yang berasal dari masyarakat maupun dari aparat pemerintah. Banyak para muzzaki yang lebih senang menyalurkan sendiri zakatnya pada mustahik yang berada di sekitarnya.

Ketiga, kurangnya sosialisasi dan informasi dari badan zakat nasional serta belum adanya pengelolaan zakat secara merata. Pengelolaan zakat secara profesional masih terfokus di perkotaan, sementara di perdesaan, pelaksanaannya lebih banyak diserahkan kepada partisipasi pribadi masing-masing. Para muzaki (wajib zakat) cukup menyerahkan kepada mustahik (berhak penerima zakat)-nya di tempat tinggal masing-masing, tanpa menghiraukan pengelolaan yang lebih baik melalui badan amil zakat. Padahal, pengelolaan zakat secara mandiri menyebabkan kurangnya optimalisasi pemanfaatan zakat sebagai solusi permasalahan kaum dhuafa, sebab zakat yang disalurkan hanya bersifat sementara dan tidak berkesinambungan.

54ec07eb4358e883d3b73d0febd4fa39_lkcdd_newlogo

Harapan Kesehatan di Indonesia

Masalah kesehatan warga negeri ini sejatinya telah diatur secara menyeluruh dalam UUD 45. Bahkan terdapat dalam 2 pasal sekaligus. Pertama, Pasal 28 H ayat 1. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Kedua, Pasal 34 ayat 3. Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

Sebagai warga yang memiliki hak untuk mendapatkan fasilitas umum dan fasilitas kesehatan yang layak, wajar seandainya kita meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan jaminan kesehatan, terutama bagi warga miskin. Namun sayangnya, sampai sejauh ini pemerintah belum sepenuhnya dapat memenuhi hak warganya dengan berbagai alasan.

Melihat kondisi ini, lantas apakah kita sebagai blogger hanya tinggal diam dengan keadaan si miskin dan membiarkan mereka menderita? Tentu tidak, saatnya kita mengoptimalkan peran dan fungsi zakat agar mampu menjadi solusi atas keterbatasan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi si miskin.

50178a6d409a443ea048e3032de24865_lkc-dompet-dhuafa-tower

Sehat Milik Semua

Pengelolaan zakat secara terorganisir dan profesional memungkinkan zakat diarahkan untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan, yakni sebagai instrumen jaminan sosial dalam upaya mengurangi kesenjangan antara si miskin dan si kaya serta memperkuat kemandirian ekonomi. Pengelolaan zakat secara terorganisasi dan profesional juga bertujuan agar zakat memberi manfaat optimal bagi kesejahteraan umat. Diharapkan, zakat bisa menjadi salah satu solusi atas berbagai masalah yang dihadapi sebagian besar masyarakat, yakni kemiskinan dan pengangguran. Dari sisi kesehatan pun harapannya si miskin dapat terlayani secara optimal. Salah satu lembaga Amil zakat yang memiliki perhatian lebih pada kesehatan para dhuafa ialah Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC).

Layanan Kesehatan Cuma-Cuma merupakan lembaga non profit jejaring Dompet Dhuafa (DD) yang mengkhususkan dalam bidang kesehatan untuk para dhuafa ini pun berupaya memberikan pelayanan paripurna pada kaum dhuafa melalui pengelolaan dana sosial masyarakat (ZISWAF-Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf) serta dana sosial perusahaan.

Mekanisme pemberian pelayanan kesehatan secara cuma-cuma pada peserta (member) oleh LCK yakni melakukan verifikasi pada tahap awal. Setelah itu, dilakukan survey oleh tim survey untuk memberi penilaian layak tidaknya calon peserta sebagai member. Jika peserta dinyatakan layak, maka ia berhak mendapatkan kartu peserta yang berlaku selama 1 tahun untuk mendapatlkan pelayanan kesehatan gratis selama 1 tahun. Verifikasi dan survey ini penting, mengingat dana yang digunakan merupakan dana yang berasal dari zakat yang dikumpulkan Dompet Dhuafa (DD) yang menjadi amanah lembaga tersebut untuk disalurkan pada sasaran yang tepat (mustahik).

Beberapa syarat yang harus dilakukan untuk menjadi anggota LKC-DD diantaranya, foto copy KTP dan KK, serta Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) asli dari kelurahan setempat. Jika tidak ada, maka bisa menggunakan Surat Terlantar yang bisa di peroleh dari Kepolisian ataupun Dinas Sosial.

Beberapa program yang telah digulirkan oleh LKC diantaranya, Gerai Sehat, TB Center, Aksi Tanggap Bencana (SigaB), Aksi Layanan Sehat (ALS), Khitanan Massal (KhitMas), Operasi Massal (OpMas), Pembiayaan Pasien, Pos Sehat, Pondok Keluarga dan Masyarakat Sehat (PKMS), Penyuluhan Kesehatan, Medical Check Up, Bina Rohani Pasien (BRP), Pelayanan Ambulance dan Mobil Jenazah serta masih banyak program lainnya. Untuk informasi program dan donasi LKC bisa diakses melalui web http://www.lkc.or.id

Yuk, optimalkan zakat dengan menyalurkannya pada lembaga Amil zakat yang tepat dan amanah agar si miskin dapat bangkit dari keterpurukannya dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Sehat Milik Semua” yang diadakan oleh LKC Dompet Dhuafa dan BLOGdetik

Referensi:

http://www.lkc.or.id/

http://www.sehatnews.com

www.beritasatu.com

http://fardelynhacky.blogspot.com/2013/11/jaminan-kesehatan-dambaan-masyarakat.html

http://alarifs.blogspot.com/2009/02/zakat-masa-rasulullah-saw.html


TAGS Dompet Dhuafa LKC Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Sehat Milik Semua


-

Author

Follow Me