Simpul yang Terpilin

13 Dec 2013

Ada banyak kisah nyata tentang keajaiban cinta disekeliling kita, kata mbak Riawany Elita. Cinta seorang suami pada istri yang mengalami kecacatan mental, tentang cinta seorang pengemis yang sanggup menembus kobaran api demi menyelamatkan kucing-kucing yang terperangkap di dalam gedung, tentang kasih sayang seekor hewan pada majikannya yang sudah tiada hingga ia sanggup menziarahi makam majikannya setiap hari, serta kisah cinta lain yang tak kalah mengharu biru.

***

Seorang ibu yang biasa berbelanja di toko saya bercerita tentang suaminya yang bertugas di Timor Leste. Saat itu Timor Leste masih bergabung dengan Indonesia dan bernama Timor-Timor.

Sambil menunggu hujan reda, si ibu bercerita perjuangannya mendidik ketiga putrinya sendirian, sementara suaminya yang bertugas di Timor Timor sejak 15 tahun itu hanya pulang enam bulan sekali. Itupun bisa dihitung jari berapa lama sang suami menemaninya. Yang jelas tak lebih dari lima belas hari.

Di dorong rasa penasaran, saya pun bertanya pada beliau komunikasi seperti apa yang mereka lakukan mengingat sarana komunikasi saat itu tak semudah sekarang. Jikalaupun ada, biaya untuk interlokal pasti mahal sekali.

Mereka berbagi kabar lewat surat. Walaupun terkadang surat sampai hingga satu bulan lamanya karena tempat bekerja suami berada jauh dari pusat kota, mereka tetap berharap kabar dari pasangannya. Saat permasalahan yang datang begitu berat dan si ibu membutuhkan teman berbagi, biasanya si ibu melakukan ‘telepati’ dengan suaminya. Telepati ini sebetulnya istilah si ibu untuk menyebutkan komunikasi hatinya dengan sang suami.

Telepati ini dilakukan si ibu setelah qiyamulail. Setelah selesai merapalkan doa, si ibu tetap berkonsentrasi dan bercerita seolah-olah sang suami di depannya. Ia melakukan itu sambil membayangkan wajah suaminya. Telepati itu ternyata sampai pada suaminya. Sang suami yang berada di pulau seberang selalu terasa kegalauan istrinya. Tak berapa lama surat dari suami untuk membesarkan hati sang istri pun datang. Walaupun terkadang kalimat pembesaran hati yang ia terima dari sang suami sangatlah biasa seperti sabar ya bu, titip anak-anak, tanpa menyinggung permasalahan yang ada, cukup bagi si ibu untuk menjadi penguat langkah dan menegakan punggungnya.

Cinta, keikhlasan serta ketabahan si ibu melanggengkan ikatan pernikahan mereka. Walaupun LDR lebih dari 15 tahun (beberapa tahun kemudian si bapak dipindah tugaskan), si bapak selalu setia. Tak pernah ada wanita lain ataupun pria lain yang menjadi orang ketiga dalam pernikahan mereka.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kuis GA Novel A Miracle of Touch Riawani Elyta. Saya ingin penya novel AMOT karena penasaran seperti apa Riawani Elyta menulis cerita yang berbau Harlequin. Soalnya selama ini novel-novel mbak Riawani Elyta kental dengan nilai-nilai Islam. Bener-bener penasaran seberapa ‘hot’ si AMOT :D

68127e5fba65741289f057eed4ccc405_cover-amot-2


TAGS


-

Author

Follow Me