Hujan dan Teduh

31 Dec 2013

c18994479af8a372c67498073be85892_11551617

Hujan dan Teduh

Judul : Hujan dan Teduh

Penulis : Wulan Dewatra

Penerbit : Gagas Media

Terbit Pertama : 2011

Tebal : 250 halaman

ISBN : 979-780-498-4

Harga : Rp 43.000

***

Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.

Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup. Mungkin jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.

Aku dan kamu aeperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin, jalan kita bersimpangan..

***

Sinopsis yang indah. Siapapun pasti penasaran dengan isinya. Belum lagi sampul buku yang terlihat manis. Apalagi ditambah embel-embel tulisan juara pertama 100% Roman Indonesia di sampul bagian depan. Plus komentar Winna Efendi, juri kompetisi ini yang mengatakan jika buku ini menyentuh dengan sederhana, real apa adanya, cara bertutur yang tidak rumit, tetapi jujur dan indah, sempurna membuat saya tak ragu membelinya. Namun sayangnya, apa yang tampak diluar betul-betul tak mencerminkan isinya. Buku ini sukses membuat saya menyesal sampai ke ubun-ubun.

Hujan dan teduh bercerita tentang kehidupan sehari-hari Bintang. Tak ada yang istimewa dari novel ini selain perilaku seks Bintang yang menyimpang. Bintang seorang biseksual. Sayangnya, tak ada keterangan yang menguatkan ataupun peristiwa yang mendasari penyimpangan seks Bintang.

Banyaknya tokoh yang datang dan pergi silih berganti sangat membingungkan. Belum lagi kematian Kayla, pasangan biseksual Bintang yang tak jelas penyebabnya. Penggambaran tokoh pun sangat minim sehingga saya tak bisa membayangkan seperti apa wujud tokoh.

Alur cerita yang disajikan penulis sangat sederhana serta mudah dipahami. Sayangnya, dalam beberapa bab percampuran alur maju mundur cerita cukup membingungkan.

Saya juga tak menemukan benang merah cerita. Pun saya tak bisa merasakan ke-Indonesiaan novel ini, mengingat biseksual jelas bukanlah sebuah penyimpangan yang bisa diterima masyarakat sebagaimana pasangan lesbi, homo dan waria.

Anehnya, dengan segala kekurangan yang melingkupinya serta ketaklayakkannya menjadi pemenangnya, novel ini telah cetak delapan kali sejak diterbitkan. Dan dengan mata hati saya yang paling dalam, saya tidak merekomendasikan buku ini untuk di beli.


TAGS


-

Author

Follow Me