The Naked Traveler 4

8 Feb 2014

268d7335fe527453b04bd678d33f8382_cover_buku_the_naked_traveler_4

Judul: The Naked Traveler 4
Penulis: Trinity
Penerbit: B First Bentang Pustaka
Terbit: September 2012
Tebal: 262 halaman
ISBN: 978-602-8864-65-7

***

Jalan-jalan bersama Trinity memang tak ada habisnya. Cerita perjalanan Trinity selalu memberi kejutan bagi pembacanya. Tak hanya menyajikan cerita keindahan sebuah destinasi, banyak pelajaran yang bisa diambil. Cerita kocaknya mampu membuat pembaca tersenyum bahkan tertawa.

The Naked Traveler 4 menceritakan perjalanan Trinity ke beberapa tempat di tanah air dan cerita perjalanannya ke beberapa negara di liat negeri. Salah satu destinasi di Indonesia yang dikunjungi Trinity yakni Gorontalo. Salah satu kota di timur Indonesia ini, Gorontalo cukup baik dalam melestarikan bangunan tua zaman Belanda dan budayanya, salah satunya adalah siesta alias tidur siang. Saat jam tidur, sebagian toko tutup. Bahkan bandara sekalipun.

Setelah empat hari jalan-jalan ke Gorontalo, pulangnya saya berencana terbang naik Garuda pukul 3.00 sore. Karena terlalu cepat datang, saya sampai di bandara sekitar pukul 1.00 siang dan ….. bandaranya tutup! (hal 18)

Kunjungan Trinity ke Kalimantan Tengah, tepatnya ke kampung Dayak membuat saya miris dengan tingkah polah anak-anak yang tak hanya memalak pengunjung terkait pemotretan, juga pertengkaran mereka atas uang yang didapat dari sesi pemotretan. Anak-anak yang sebelumnya terlihat manis menggemaskan berubah seperti preman. Kecil-kecil sudah komersial dan buas.

Kunjungan Trinity ke Afrika Selatan juga tak hanya bercerita tentang keindahan pantai yang di penuhi anjing laut, juga tentang rasisme yang membuat bulu kuduk berdiri. Tak membayangkan betapa kejamnya rasisme di Afrika Selatan jaman dulu.

Di buku The Naked Traveler 4 Trinity tak hanya bercerita seputar kisah perjalanannya, ia juga berbagi beberapa tips. Salah satunya prinsip jalan-jalan murah ala Trinity. Ia mengingatkan sebuah adagium quality comes with the price, ada harga ada mutu. Kalau mau murah, ya, jangan ribet, deh.

Kalau mau murah, ya, terimalah ketidaknyamanannya, karena murah dan nyaman itu jarang kompakan. Istilahnya, bayar selawe, kok, njaluk selamat! (hal 95)

Trinity mengemas cerita perjalanannya begitu ‘renyah’ hingga pembaca dibuat tak bosan membacanya. Namun begitu, tak ada gading yang tak retak. The Naked Traveler 4 hanya kenyajikan foto hitam putih yang tentunya kurang memberi kesan. Pembaca tak bisa merasakan keindahan ataupun keunikan tempat yang ia tuju. Jika saja buku ini menampilkan foto fullcolour di beberapa bagian seperti di buku Titik Nol milik Agustinus Wibowo, tentu kisah perjalanan Trinity akan lebih menarik.


TAGS


-

Author

Follow Me